Bisnis.com, SURABAYA - PT Merdeka Copper Gold, Tbk (MDKA) aktif bekerjasama dengan masyarakat lokal dalam mendaur ulang limbah organik yang bernilai ekonomi tinggi.
Head of Corporate Communications MDKA Tom Malik mengatakan salah satu bentuk tanggung jawab lingkungan perusahaan adalah dengan menjalankan prosedur pengelolaan, pengumpulan dan pemanfaatan sampah domestik sebagai bentuk kepatuhan perusahaan terhadap Undang Undang Republik Indonesia No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
"Anak perusahaan MDKA, PT Bumi Suksesindo (PT BSI) pengelola Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan salah satu contoh anak usaha MDKA yang telah menjalin kolaborasi dengan Komunitas Pemuda Etan Gladak (PEGA) yang berbasis di Kecamatan Pesanggaran sejak 2017," jelasnya dalam rilis yang diterima Bisnis, Jumat (28/2/2025).
Adapun bentuk kerja sama dan pembinaan yang dilakukan adalah pengumpulan dan pengelolahan sampah organik dari sisa hasil olahan catering PT BSI serta sampah warga dari desa lingkar tambang yaitu Pesanggaran dan Siliragung.
"Sampah yang terkumpul diolah dan diurai hingga menjadi produk maggot kering (larva lalat hitam) dan pupuk cair. Maggot berprotein tinggi ini dapat digunakan sebagai pakan ternak sedangkan pupuk cair dapat menyuburkan tanaman," ujarnya.
Tom melanjutkan tak hanya di PT BSI, Merdeka turut melakukan program pengelolaan sampah domestik di seluruh anak perusahaan lainnya seperti PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), anak perusahaan MDKA di bawah naungan PT Merdeka Battery Materials, Tbk (IDX:MBMA) di Morowali, Sulawesi Tengah.
Baca Juga
Selain itu perusahaan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.
Melalui langkah-langkah strategis ini, MDKA dan seluruh anak perusahannya berambisi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan, dengan menghadirkan inovasi dan nilai tambah bagi industri pertambangan Indonesia.
Sementara itu, Ketua PEGA Sundarianto menyampaikan PEGA aktif mengelola sampah sekitar 20 ton tiap bulan, sepanjang 2024.
"Sampah yang telah diolah lebih dari 271 ton yang kemudian dipasarkan dengan harga jual maggot 6.000 rupiah per kilogram dan pupuk cair 7.000 rupiah per liter," ujarnya.